Selasa, 13 Desember 2011
SuckSeed
Menurutku bahasa paling aneh sedunia itu cuma milik Thailand seorang. Selama ini, dialek cina, korea, francis, atau negara manapun seunik apapun aku ga pernah nemuin bahasa orang yang ngomongnya kaya keselek di tenggorokan kaya orang-orang Thailand. Orang Thailand tuh asli unik. Makanya unbelievable banget dengan dialek mereka yang khas itu, mereka bisa ngucapin bahasa inggris dengan bagus. Dengan suara dan cengkok mereka yang cempreng cempreng (dan setauku bahasa Thailand itu diucapin pake nada, ada nada tinggi sama nada rendah jadi salah nada sedikit, bakal salah persepsi juga) rasanya agak freak kalau aku ngedengar mereka bisa bahasa inggris kaya Cinta Laura. Mungkin itu juga alasan kenapa salah satu temen chat aku di Facebook yang dari Thailand pernah bilang kalau negara dia itu susah nyari orang yang sempurna bahasa inggrisnya. Dan mungkin itu juga alasan kenapa aktor/aktris orang disana tuh mukanya kebanyakan muka indo.
Soalnya dengan skill ability bahasa inggris yang biasa aja, Thailand sebenarnya ga jauh jauh beda sama Indonesia. Muka orang-orangnya mirip. Suasana chaos kota kotanya mirip Indonesia. Cuma salah satu kenyataan yang menyebalkannya adalah.... kenapa dengan fakta kalau cara ngomong mereka itu asli konyol sekarang film film mereka bisa jadi populer di negeri kita sendiri? Sekarang setiap temen aku minimal tahu siapa itu Mario Maurer. Bioskop yang baru juga sudah mulai nayangin film yang lagi update disana, The Billionaire. Aku pikir dengan semua ini, menunjukkan bahwa Thailand semakin maju diatas Indonesia. Rutinnya film-film mereka masuk ke sini mengindikasikan bahwa Thailand sudah cukup punya pasar disini, dan punya "fans" disini.
Jadi begini sinopsis singkatnya:
Ped (Jirayu Laongmanee) bertemu lagi cinta masa kecil terpendamnya, Ern (Natasha Nuanjam). Tapi sayangnya ternyata si sahabat yang labil, Koong (Peach Pachara) juga menyukainya. Koong pun mengajak Ped untuk membentuk sebuah band. Mulanya hanya keinginan spontannya, sampai pada akhirnya membawa babak baru bagi ujian persahabatan mereka. Siapakah yang akan mendapatkan hati Ern?
Sebenarnya Suckseed itu bukan film penting. Ini film remaja dengan asupan drama cinta dan komedi dengan kekonyolan ala Scott Pilgrim VS The World (dengan sedikit efek komikal ala Scott Pilgrim VS The World juga) dan ini jika tidak ditangani oleh orang yang tepat akan berakhir seperti film-film drama cinta ala orang Indonesia. Am I too cynic? Tapi menurutku, sampe untuk era sekarang, ga ada satupun film Indonesia di genre komedi-remaja yang lucu maupun berkesan selain kebanyakan menaburkan kegejean dan kelebayan yang sayangnya, tidak menghibur. Apakah kita terlalu susah bikin sesuatu dengan cita rasa kita sendiri? Aku ga tau. Yang pasti pertanyaan itu bukan cuma buat genre komedi-remaja tapi aku rasa untuk semua genre di tanah air ini (then, I don't need to write 'Horror').
SuckSeed itu lebay. Konyol. Momen-momen komedik bertebaran disana sini, berselipan dan saling tumpuk dengan porsi drama cinta dan unsur persahabatannya. Tapi Chayanop Boonprakob, sang sutradara, berhasil membuat 130 menit itu bukannya menjadi tontonan tidak jelas yang melelahkan melainkan menarik dan sangat menghibur. Am I too much? Aku berusaha buat menilai murni SuckSeed ini tanpa melihat bahwa ada Jirayu Laongmanee bermain di film ini. Tapi ya tanpa melihat faktor itu.... film itu memang (maaf kalau masih keliatan berlebihan) dipastikan bisa membuat sangat terhibur dan bisa membuat jatuh cinta.
SuckSeed bertutur mulanya dengan gaya main-main, seakan film ini hanya sebuah cerita cetek tentang sebuah band labil featuring kisah cinta-segitiga-remaja, dan membuat orang berpikir awalnya bahwa film ini sepertinya akan jatuh konyol sama sekali. Tapi makin mengalir, ternyata Chayanop mampu merubah pemikiran itu. Dibalik gaya dan komedi yang diselipkan banyak disana-sini ceritanya semakin bertambah serius, tentu bukan dengan tendensi yang serius pula masih dengan tone ringan disesuaikan untuk konsumen remaja. Alhasil SuckSeed jadi tebal bukan cuma dengan gaya komedinya yang nyeleneh dan gaya kreatifnya untuk memamerkan dirinya sebagai "film musik" (adegan ketika Ped jatuh cinta atau sedih dimana band band ternama lalu muncul dan menyanyikan lagunya... THAT'S SO CREATIVE!) tapi juga tidak melupakan ceritanya. Lewat karakterisasi yang berisi membuat penonton jadi mengenal dan ikut bersimpati pada persahabatan Ped-Koong bahkan terlibat emosi atas perseteruan keduanya ketika dihadapkan pada cinta segitiga. Penonton tentunya ikut ingin mengetahui apa yang dipilih Ped pada akhirnya: Cinta atau Persahabatan?
Jadi apa yang membedakan SuckSeed dengan semua film remaja-komedi lainnya? Dengan film film remaja berbumbu serupa di Indonesia? Film maker kita mesti belajar banyak bahwa kekonyolan dan kenyelenehan itu bukan cuma berpotensi jadi popcorn atau sampah lewat saja, melainkan masih bisa dikolaborasikan dengan struktur cerita yang kuat dan pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. Menurutku sih bikin film itu ya emang segampang itu. Bikin aja dengan sepenuh hati, jangan jadi asshole, jangan sok bertingkah ngebikinnya kaya douchebag, bikin aja. Emang sesederhana itu kan?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar